Posts

Kenapa Hujan

Kenapa salahkan hujan ketika rintiknya membasahi baju barumu Kenapa salahkan hujan ketika airnya merusak rambutmu Kenapa salahkan hujan ketika petir menakutimu Kenapa salahkan hujan ketika dinginnya mengingatkanmu, menjebakmu dalam haru biru kenangan Kenapa salahkan hujan ketika anak kecil tertawa bersamanya Dulu kau menunggunya agar kau bisa libur dari sekolah Dulu kau menangis bersamanya berharap bisa menari di antara hujan Dulu kau berharap padanya agar ia menemani tidurmu Kenapa salahkan hujan

Memimpikan Pagi

Bagian kedua “a… aku tidak bisa. Tidak! Aku sudah memiliki mimpi besar di depan mataku Pagi, aku tidak punya waktu untuk permainan seperti ini.” Sulit bagiku untuk mengatakannya tetapi aku tidak ingin ada yang menghambatku menggapai mimpiku. Aku berjalan ke arah ibu dan Paman Mulyadi yang sedang bercengkrama. Tidak lama setelah itu, aku sedang menikmati langit pagi yang mengantarku ke Frankfurt, pesawatku akan berhenti di sana sebelum menuju ke negeri Paman Sam. Aku teringat kembali dengan perkataan Pagi beberapa jam yang lalu, aku berharap dapat melupakannya ketika aku berada di ketinggian, bahkan pemandangan langit yang cerah pun makin mengingatkanku akan Pagi. Tidak! Jangan lembek Langit, kamu akan berjumpa dengan empat pagi berbeda dalam satu tahun ke depan. Ada pagi di musim panas, pagi musim gugur, pagi musim dingin, dan pagi di musim semi saat dirimu akan bertemu dengan Pagimu. Kau merindukannya bukan? Aku tidak tahan dengan perasaanku, kalut. Aku mengira akan merasa le...

Memimpikan Pagi

Senja                 Aku harus melewatkan tidurku agar bertemu dengannya, tetapi terkadang malam tak kunjung surut. Suatu kali aku dibangunkan oleh cicitan burung gereja, tetapi Pagi mulai beranjak pergi. Di lain sisi, Pagi juga menghabiskan siangnya agar bertemu denganku. Sebuah Senja penuh warna di ufuk barat. Tetapi Senja tak selalu datang berwarna jingga, atau bahkan ungu kemerahan di terpa sinar mentari. Terkadang Senja membawa awan kelabu yang membuat Pagi diam tak berkutik. Cukuplah waktu yang memisahkan Pagi dan Senja.                 Namaku Senja, setidaknya begitulah ia memanggilku. Ia berkata, aku menarik seperti langit senja. Ia mengatakan tak pernah bertemu senja seindah diriku, dia memang tukang gombal, tetapi pipiku seringkali memerah karenanya. “Halo Senja, apa kabar? Sibukkah?” Ujar suara di seberang sana.  ...

DIAM

Image
Ucapan bisa saja hanya sekedar kumpulan kata tak berarti. Setiap huruf berbaris menemukan rima agar terdengar indah. Namun, telinga yang mendengarkan tak dapat bersandiwara, mengurangi makna dari setiap tanda baca. Hanya saja hati yang hampa semakin hampa tanpa perasaan, beterbangan membentuk kata yang terucap. Diam tidak sekadar diam.  Diam adalah kemarahan terbesar dan kebencian terdalam hingga ucapan tak sanggup menyampaikan. Diam adalah perasaan tanpa emosi,  terkadang ia hanya tak dapat mewakili hati. Hati yang remuk, Hati yang teriris, Hati yang berdegup kencang Hati yang dikhianati

Hanya Rasa

Hanya rasa,  kehilangan baru terasa setelah menjauh.  Tak dapat bertemu baru terharu Tak dapat menyentuh baru terpaku Kesaktian rasa menghancurkan jiwa  yang rapuh Bukan, bukan hanya jiwa Tapi hati yang terbelenggu Terikat rasa yang tak hilang  Tapi raga yang menjauh Terlalu nyaman tak ingin pergi Tinggalkan rasa, menggigil kedinginan Dingin, terlalu dingin tanpa rasa

Sebuah Kata Benci

Kebencian bisa datang kapan saja. Bahkan di saat dirimu dihanyutkan oleh cinta dan kasih. Bisakah kamu memikirkan seberapa cepat ia menjalar merasuki setiap nadi di sekujur tubuhmu? Bahkan detak jantungmu memberi dukungan untuk perlombaan yang hanya menyesakkan itu. Sesehat apapun manusia, pasti akan merasa sakit. Secinta apapun dirimu padanya, ada kalanya kamu membencinya. Teramat sangat. Dengan panah kebencian menusuk ulu hatimu. Benci dapat mengalir melalui aliran keringat di dahimu. Saat kau bekerja siang dan malam tetapi tidak mendapatkan apresiasi yang selaras. Benci bisa terbang di sela-sela dedaunan. Cepat, dan terkadang merusak pemandangan. Menderu dan membasahi, itulah hobinya bersama ombak. Memecah kepercayaan yang telah lama kau bangun. Dalam sekejap ia runtuh hanya karena ulah bocah tak tahu diri bernama benci. Namun pantaskah aku membencimu dalam semalam, lantaran aku mencintaimu bertahun lamanya?

Yang Telah Usang

Image
Baju walaupun tidak terpakai, lama-lama akan pudar. Rumah walaupun hanya ditinggalkan barang sehari, dua hari, bahkan tiga hari akan tetap berdebu. Kau lupa betapa rindunya telepon antik berwarna biru laut itu akan jemari dan sentuhan tanganmu memutar angka tujuh dan lima sebanyak tiga kali. Deringan telepon tua itu akan terseok-seok mengharapkan panggilan untuk tuannya. Akan tetapi, sang tuan melupakan kesenangan lamanya yang tergantikan dengan hobi baru. Begitu pula dengan sebuah rasa. Tidak terjamah, maka akan hilanglah ia. Tak tahu entah kemana, pergi menapaki hati lain katanya. meninggalkan hati yang kosong dan hampa. Ia tidak tersakiti, juga tidak terkhianati. Hanya saja, ada seberkas kekosongan yang tak tahu kemana isinya. Seperti kopi di warung tua pinggir jalan, tak pernah dihabiskan orang tapi tak tahu juga kemana perginya, mungkin si Mbok pemilik warung membuangnya ke selokan. Namun, apa peduliku terhadap secangkir kopi yang terlalu manis, hingga tak dapat kunikmati? ...